Feeds:
Tulisan
Komentar

Integrity 2!

 

Ditengah kesendirian, menyelesaikan waktu yang terus berjalan melewati diri yang statis, bahkan cenderung terpaku pada masa lalu. Terkadang, terlintas pertanyaan busuk tentang takdir. Pertanyaan, yang hanya menambahkan kepedihan dari tangan-tangan takdir yang telah dengan begitu dalamnya menorehkan kisahnya. Sudah berganti pagi dengan malam, sudah bersinar kembali matahari yang semula diselubungi oleh kelamnya awan-awan hujan. Dan diri pun bergumam…

 

“Jangan lagi ada tanya tentang Cinta. Reguk dan nikmatilah. Mabuk dalam pesonaNya.”

seperti Rumi yang tak pernah berhenti, walau sedetikpun terlena dengan arak lain selain arak dari cawan Sang Cahaya yang abadi. Bagaimana denganku? Aku masih saja terpaut ketat dengan sakitnya takdirku. Bukankah Rumi, Sang pujangga mistis penuh pesona, juga pernah mengalami sakitnya terpisah dari cinta; Syams Tabriz? Iapun, jatuh terpuruk ketika Syams meninggalkannya. Tapi, ia bisa mengatasi kesedihan mendalamnya, dan terbuai dengan alunan manifestasi Sang Cahaya atau Sang Cinta; apapun itu.

 

Aku bukan Rumi. Ya… hanya itulah yang dapat aku ungkapkan sebagai justifikasi keterpurukkanku. Dapatkah aku menjadi seorang ksatria? Ksatria bagi pergulatan dengan sakitnya masa lalu, atau ksatria yang selalu siap berani menghadapi apapun yang datang menghampiri dan jika semuanya telah berlalu, aku akan dengan lantangnya meneriakkan kemenanganku.

 

Terkadang aku seperti ingin tertawa terbahak, mentertawai diri sendiri, atau bahkan meneriakkan kata-kata bodoh. Aku ingin melepaskan semuanya, mengikuti dan tenggelam dalam lingkaran gema Sang Cinta, hingga pada akhirnya terlebur denganNya. Sungguh nikmatnya membayangkan aku dapat dengan bebasnya berlarian kesana kemari, menebarkan senyum penuh cinta walau kepada tiran sekalipun. Membuat para tiran, semakin menjadi gila hingga akhirnya mereka pun tergila gila dengan Cinta.

 

Keterpurukkan itu, bermula 2,5 tahun yang lalu. Di saat aku sedang menikmati perjalanan pernikahan yang menurutku membahagiakan, tapi tidak cukup membahagiakan untuk suamiku. Kami dikaruniakan seorang jagoan tampan, Resyad Gebrayel; yang saat itu masih berusia 4 bulan dan aku sudah mengandung bayi kedua. Terkejut memang, mengetahui hal tersebut. Waktu-waktu yang kulewati sampai anak keduaku terlahir, sangat berat. Kami bertiga; aku, resyad, dan adiknya yang masih dalam kandungan berjuang menghadapi cobaan besar. Masih sangat melekat, saat dimana aku begitu menggantungkan hidupku dan jabang bayiku. Di usia kehamilanku memasuki bulan ketiga, aku terduduk di pojok kamarku, menyusuinya, sambil berdoa penuh harap kepada Yang Maha Hidup untuk menguatkanku mempertahankan jabang bayi yang ada di dalam kandunganku, dengan kondisi pendarahan hebat. Masih banyak lagi, masa-masa aku sangat tidak berdaya sebagai sebentuk ciptaanNya. Dan kenangan – kenangan itu, masih sangat terasa menyesakkan. Jabang bayi itu, lahir dengan kondisi cacat jantung. Menyesakkannya lagi, aku tidak mendapatkan hak-ku untuk bercerai darinya. Entah untuk alasan apa lelaki berilmu agama luar biasa itu mempertahankanku? Cinta? Ataukah hanya sebatas fasilitas dan nama baik?

 

Aku menulis kisahku, bukan dengan tujuan untuk berbagi sakitku. Aku berharap dengan tulisan ini, mungkin dapat ‘ membuka ‘ mata hati, terutama pria untuk setidaknya menghargai kaum wanita. Mungkin pendapatku agak terkesan feminis, tapi menurutku perempuan adalah “tangan kanan” Tuhan. Tanpa rahim perempuan yang sangat luar biasa, tidak akan ada manusia-manusia dengan beragam rupa dan sifat. Aku tidak bermaksud membatasi kekuatan Tuhan yang Maha Agung. Yang terjadi, adalah seolah-olah pria-pria dengan orientasi syahwat seakan ‘ lupa ‘, bahwa yang membawa mereka sehingga mereka mendapatkan semua fasilitas pemuas syahwat, tak lain dan tak bukan adalah perempuan. Tragis memang, mengingat terkadang para lelaki itu menggunakan kelebihan dan kekuatan fisiknya untuk ‘mengalahkan’ perempuan.

 

Disini, aku pun berharap dapat ‘menyadarkan’ perempuan, terutama ‘ibu’ untuk menjaga integritasnya, harga diri, atau apapun namanya. Karena, masa depan anak anak penerus kehidupan dan penghambaan tergantung penuh pada mereka. Jangan sampai anak anak yang tidak terlibat dalam tindakan bodoh ibunya menjadi korban penolakan masyarakat, hanya karena si ibu tidak dapat menjaga harga dirinya dengan baik. Bagiku, wanita yang menjajakan dirinya untuk hidup, tidak dapat disebut pelacur. Kondisilah yang memaksakan mereka. Dengan tidak adanya kesempatan dan kemampuan untuk pendidikan yang baik, tekanan kondisi ekonomi, mereka mau tidak mau ‘ berjualan ‘. Pelacur bagiku adalah perempuan yang dianugerahi ‘ kecukupan ‘, baik suami, kondisi ekonomi, pendidikan, anak anak yang manis, keluarga yang utuh, tapi dengan gampangnya ‘tidur’ dengan laki-laki lain. Bahkan ada perempuan, berjilbab, rajin mengikuti pengajian – pengajian, dengan gratis memberikan harga dirinya, yang seharusnya hanya ia berikan kepada suaminya, tapi malah ia ‘ bagi ‘ dengan ‘ Ustadz ‘nya di tempat tidur hotel, di bulan Ramadhan. Bisa dibayangkan bagaimana nasib pendidikan moral anak anaknya ditangan seorang ibu seperti itu.

Wanita, pria, hanyalah masalah jenis kelamin. Seprti yang ditulis didalam blog sahabat saya, bahwa hubungan atau keterikatan yang terjadi antara pria – wanita hanyalah sebatas kontrak sosial. Yang menjadi pertanyaan, apakah kedua belah pihak mempunyai hak yang sama untuk mengakhiri bentuk kontrak tersebut? Yang terjadi pada kisah seorang perempuan diatas, menunjukkan bahwa seolah olah kontrak tersebut dikuasai oleh pihak pria. Apakah pria sebegitu pentingnya? Sampai2 hak untuk menjatuhkan talak berada penuh pada tangan pria. Padahal yang sudah jelas2 dirugikan adalah si perempuan tersebut.

Pembunuhan!!!!

 

Keterikatan “kontrak sosial” ini, membunuhku perlahan – lahan. Dimana,bahasa suci cinta dipermainkan lidah kedua pelaku kontrak. Apakah cinta itu benar – benar ada, tak ada yang tahu. Ataukah cinta hanya dijadikan “perantara” untuk kelangsungan hidup? Aku sangat2 mencintai anakku, itu satu2nya hal yang kuketahui tentang cinta.

Tuhan, maafkan aku… Kini, setiap kali aku melihat kitab suci terakhirmu itu, aku merasa sakit, aku muak, aku kecewa, bahkan aku ingin merobeknya, meneriakkan kepada dunia bahwa Kitab itu, tak lebih dari kumpulan ukiran bahasa asing semata!!!

Mungkin, tidak ada satupun yang benar benar mengerti!!! hanya ada aku dengan isak tangisku di setiap malam. Hanya ada aku dengan segala kebencianku. Kebodohanku, kebutaanku, bahkan mimpi2 indah yang dulu membuatku melayang, kini perlahan – lahan menggerogoti habis nafas harapan akan hadirnya cinta.

Anakku, Sang penawar sakit. Hanya dirinya yang bisa membuat aku sedikit lupa tentang kegilaanku. Anakku, yang membuat kedua kaki ini masih tetap tegar berdiri walau gemetar; menghadapi permainan kata cinta ini.

Yah… semuanya hanyalah sebuah kontrak sosial yang mengikat. Siapa yang lebih berkuasa atasnya? Dirinya? Aku? Atau “Dia?” Siapa yang tahu kapan kontrak menyesakkan ini akan berakhir? Dirinya seolah menutup mata dan telinganya akan keputusasaanku. Apa yang sebenarnya ia mau? Jika jawabannya adalah cinta, MAAF, tolong seseorang memberitahunya bahwa ia mencari cinta di tempat yang sangat salah. Cinta itu tidak ada lagi pada diriku… Ia sudah membuangnya sendiri dengan kedua tangannya, dan atas nama Tuhannya!!!

Terserah… Bolehkah aku berpasrah seperti itu? Sebenarnya… aku hanya ingin kontrak ini berakhir dengan sangat damai, disetujui oleh kedua belah pihak, seperti halnya ketika kontrak ini dibuat 3 tahun yang lalu. Tak ada paksaan, yang ada hanyalah kesepakatan.

Mungkin aku akan menjadi sedikit lega, karena tidak ada lagi kekhawatiran untuk tersakiti dan dicampakkan lagi. Dan mungkin, aku akan mulai “berteman” lagi dengan Si Kitab suci. Mungkin, ketika semuanya berakhir, semuanya akan mulai membaik…

My beloved

Anakku; Haydar Ali… hampir satu tahun sudah, kamu meninggalkan ibu, sayang…

Rasanya… Masih sangat2 terasa kehadiranmu disini, dipelukanku. Masih sangat nyata terdengar suara tangisanmu, dan aku pun masih terbangun di tengah malam.

Seolah olah tubuh ini masih sangat terbiasa untuk mengganti popokmu, menyusuimu dan kemudian menimangmu sampai kamu terlelap kembali.

Kamu tidak lagi bersama ibu, tahukah kamu nak?

Mata ibu tidak pernah benar2 kering dari air mata?

Hati ibu terluka dalam sekali, sayang… Karena kamu, tidak lagi menemani ibu menjalani takdir di dunia kotor ini.

Kamu pasti tahu, sayang… Hati ibu tidak pernah sedetik pun tidak memanggil namamu, merindukanmu.

Aaaah… andai saja kamu ada disini…

Nak, ibu sedang merintih “sakit” karena rindu kamu…

Ibu “hancur” karena kehilanganmu…

Ibu tahu, kamu pasti sangat2 bahagia di dunia penuh cinta dan damai.

Sayang… bukan ibu, tidak rela kamu menikmati bahagia dan damai.

Tapi… karena aku adalah ibumu, aku tidak akan pernah rela terpisah dari kamu, kehilangan harum-mu…

Karena, aku IBU, nak….

BULLYING!!!

Bullying…

banyak yang menganggap bullying itu hal yang wajar terjadi. TIDAK dong!!! bullying kan, termasuk kekerasan. dan sekali lagi, tidak boleh ada kekerasan di dunia yang telah diciptakan oleh Sang Maha Agung karena dan dengan Cinta.

Kekerasan, tidak hanya secara fisik, verbal pun consider sebagai kekerasan. nah, untuk masalah bullying yang ( dari dulu )  marak di sekolah2, terutama pada saat MOS, perploncoan, dll ( dari dulu ) hanya dianggap sebagai ‘angin’. Kalo ya, si korban bullying menanggapinya sebagai hal yang positif untuknya. Nah, kalo akibatnya justru malah jadi negatif?

Siapa pihak yang harus bertanggungjawab untuk bullying ini?

Guru? yang konon dikenal sebagai ‘pendidik?’ harus benar2 diluruskan pengertian dan peranan ‘pendidk’ disini. Banyak sekali para praktisi ‘ pendidikan’ yang melegalkan bullying sebagai sarana efektif untuk mendidik. Alhasil, mereka hanya semakin membantu meningkatnya monster2 tanpa kasih sayang.

Yang sangat penting, orang tua!!!

Bukan hanya para ortu harus diberi pendidikan tentang bullying. yang lebih penting, orang tua harus ‘membenahi’ dirinya sendiri terlebih dahulu. Karena, anak2 yang katanya menjadi harapan bangsa, mereka hanyalah korban dari kultur kekerasan, immorality, dll. Anak2 itu, bagaikan spons yang daya serapnya sangat2 hebat.

Kembali lagi, INTEGRITAS!!! jika, dari kecil mereka sudah disuguhi dengan adegan2 kekerasan, ya… yang mereka serap dan tersimpan rapat di otaknya hanyalah ide2 tentang kekerasan. Kalo, orangtuanya ” SENIOR ” ( Senang Istri Orang ), ketika sosok yang seharusnya menjadi ‘Raw material’ ini berbicara tentang kasih, tanggungjawab, moral, dll… sudah pasti, si anak akan menolak mentah2 nasihat2 luhur orangtuanya.

Mari… kita “SADAR”… Yuk, benahi diri. Yuk, kita sebar cinta. Yuk, mulai melongok integritas masing2 dan diperbaiki. Jangan ada lagi kekerasan dalam bentuk apapun. Yuk, kita jadikan dunia besar nan indah ini penuh damai dan cinta…

Kepompong

Mungkin… Hidup ini, bagai sebuah kepompong kupu kupu yang masih menggantung lekat pada batang pohon.

Sebuah keindahan luar biasa tersembunyi rapat di dalamnya. Keindahan yang terlihat rapuh, namun luar biasa tegar, kuat, hebat.

Batang pohon; dunia yang menjadi ‘tumpuan’ manusia dalam menjalani hidupnya. Manusia menempel kuat pada dunia, terbungkus rapat oleh egonya masing masing. entah itu masa lalu, kekhawatiran akan masa depan, ambisi, gejolak emosi, atau apapun namanya.

Aku lebih suka mengandaikan diriku sebagai kupu-kupu yang masih terbungkus di dalam kepompongya. aku sudah muak berada di dalam kepompong. Ingin rasanya terbang dengan bebas, mengarungi dunia, hinggap dari bunga ke bunga yang lainnya. Tidak peduli, dengan ganasnya angin yang setiap saat dapat menghempaskan, merobek sayap tipisku. Menikmati semua ‘tangan-tangan’ yang mencoba merenggut keindahanku.

Menebarkan cinta, menikmati kasih… Terlepas, dari semua belenggu yang selama di dalam kepompong menyayat perih.

kalaupun, aku nantinya terjatuh… itu berarti peranku sudah berakhir. dan akupun, terjatuh dengan tenang, menikmati akhir hidup dengan bahagia. Lega… karena semua sakit hilang.

Dan, dengan ketidakterbatasanku, aku tersenyum penuh CINTA dari ’sana’…

Bayangan

hIDUP… Perjalanan mengarungi ‘bayangan’. Yang menjadi pertanyaan, sepanjang apa bayangan yang dipilih manusia unuk diarungi. Dan, mengapa harus terpaku hanya pada ‘bayangan’Nya saja?

Sang Cinta, Yang Maha Agung…”menapaki” turun tangga surga.

seperti seorang raja turun dari singgasananya, menyapa, membelai rakyatnya.

Sang Cahaya, menebarkan CintaNya, tak tersisa, kepada semuanya, tak terlewatkan satu pun.

Membuat para penerima Cinta ‘terbutakan’

Hingga mereka semakin ‘menjadi-jadi’, me-lisensikan cinta hasil ‘pemberianNya’ sebagai milik pribadi.

Karena ‘kebutaan’, mereka lupa.

Mereka lupa, bahwa mereka hanyalah ‘bayangan’ Sang Cinta.

Yang penuh dengan Cinta, maka mereka-pun ‘ada’.

menanti cahaya

menanti cahaya…

untuk apa? toh Sang Cahaya selalu bersinar dengan terangnya.

hanya diri ini saja yang begitu bodohnya menghijabi diri dengan tirai yang sangat tebal. seolah-olah tak mau sedikitpun membiarkan tubuh yang kotor ini menikmati keindahan dan kehangatan Sang Cahaya.

Lucunya… aku selalu bertanya, menggugat… mengapa Sang Cahaya tidak pernah menyapaku.

Aneh memang, menutup diri dari keberadaanNya yang begitu nyata. Padahal Ia punya semua yang kubutuhkan. Cinta, Damai, Pesona… Ia yang sangat sangat tidak terbatas.

Malu rasanya mengingat, selama ini aku menangisi kemalanganku, kehausanku akan Cinta. Padahal selama ini, tak sedetikpun, tak secuilpun Cinta hilang, memalingkan KeAgunganNya dari diri ini.

Mungkin Sang Cahaya, Sang Cinta atau apapun namaNya yang kerap kali bertanya, kapan aku membalas CintaNya yang begitu tulus, besar, dalam, tak terbatas, tak bersyarat. padahal, sudah ribuan bahkan jutaan kali Ia memanggilku, melempariku, membelaiku.

Dan, aku masih saja terduduk meratapi hausku akan Cinta.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!