Ditengah kesendirian, menyelesaikan waktu yang terus berjalan melewati diri yang statis, bahkan cenderung terpaku pada masa lalu. Terkadang, terlintas pertanyaan busuk tentang takdir. Pertanyaan, yang hanya menambahkan kepedihan dari tangan-tangan takdir yang telah dengan begitu dalamnya menorehkan kisahnya. Sudah berganti pagi dengan malam, sudah bersinar kembali matahari yang semula diselubungi oleh kelamnya awan-awan hujan. Dan diri pun bergumam…
“Jangan lagi ada tanya tentang Cinta. Reguk dan nikmatilah. Mabuk dalam pesonaNya.”
seperti Rumi yang tak pernah berhenti, walau sedetikpun terlena dengan arak lain selain arak dari cawan Sang Cahaya yang abadi. Bagaimana denganku? Aku masih saja terpaut ketat dengan sakitnya takdirku. Bukankah Rumi, Sang pujangga mistis penuh pesona, juga pernah mengalami sakitnya terpisah dari cinta; Syams Tabriz? Iapun, jatuh terpuruk ketika Syams meninggalkannya. Tapi, ia bisa mengatasi kesedihan mendalamnya, dan terbuai dengan alunan manifestasi Sang Cahaya atau Sang Cinta; apapun itu.
Aku bukan Rumi. Ya… hanya itulah yang dapat aku ungkapkan sebagai justifikasi keterpurukkanku. Dapatkah aku menjadi seorang ksatria? Ksatria bagi pergulatan dengan sakitnya masa lalu, atau ksatria yang selalu siap berani menghadapi apapun yang datang menghampiri dan jika semuanya telah berlalu, aku akan dengan lantangnya meneriakkan kemenanganku.
Terkadang aku seperti ingin tertawa terbahak, mentertawai diri sendiri, atau bahkan meneriakkan kata-kata bodoh. Aku ingin melepaskan semuanya, mengikuti dan tenggelam dalam lingkaran gema Sang Cinta, hingga pada akhirnya terlebur denganNya. Sungguh nikmatnya membayangkan aku dapat dengan bebasnya berlarian kesana kemari, menebarkan senyum penuh cinta walau kepada tiran sekalipun. Membuat para tiran, semakin menjadi gila hingga akhirnya mereka pun tergila gila dengan Cinta.
Keterpurukkan itu, bermula 2,5 tahun yang lalu. Di saat aku sedang menikmati perjalanan pernikahan yang menurutku membahagiakan, tapi tidak cukup membahagiakan untuk suamiku. Kami dikaruniakan seorang jagoan tampan, Resyad Gebrayel; yang saat itu masih berusia 4 bulan dan aku sudah mengandung bayi kedua. Terkejut memang, mengetahui hal tersebut. Waktu-waktu yang kulewati sampai anak keduaku terlahir, sangat berat. Kami bertiga; aku, resyad, dan adiknya yang masih dalam kandungan berjuang menghadapi cobaan besar. Masih sangat melekat, saat dimana aku begitu menggantungkan hidupku dan jabang bayiku. Di usia kehamilanku memasuki bulan ketiga, aku terduduk di pojok kamarku, menyusuinya, sambil berdoa penuh harap kepada Yang Maha Hidup untuk menguatkanku mempertahankan jabang bayi yang ada di dalam kandunganku, dengan kondisi pendarahan hebat. Masih banyak lagi, masa-masa aku sangat tidak berdaya sebagai sebentuk ciptaanNya. Dan kenangan – kenangan itu, masih sangat terasa menyesakkan. Jabang bayi itu, lahir dengan kondisi cacat jantung. Menyesakkannya lagi, aku tidak mendapatkan hak-ku untuk bercerai darinya. Entah untuk alasan apa lelaki berilmu agama luar biasa itu mempertahankanku? Cinta? Ataukah hanya sebatas fasilitas dan nama baik?
Aku menulis kisahku, bukan dengan tujuan untuk berbagi sakitku. Aku berharap dengan tulisan ini, mungkin dapat ‘ membuka ‘ mata hati, terutama pria untuk setidaknya menghargai kaum wanita. Mungkin pendapatku agak terkesan feminis, tapi menurutku perempuan adalah “tangan kanan” Tuhan. Tanpa rahim perempuan yang sangat luar biasa, tidak akan ada manusia-manusia dengan beragam rupa dan sifat. Aku tidak bermaksud membatasi kekuatan Tuhan yang Maha Agung. Yang terjadi, adalah seolah-olah pria-pria dengan orientasi syahwat seakan ‘ lupa ‘, bahwa yang membawa mereka sehingga mereka mendapatkan semua fasilitas pemuas syahwat, tak lain dan tak bukan adalah perempuan. Tragis memang, mengingat terkadang para lelaki itu menggunakan kelebihan dan kekuatan fisiknya untuk ‘mengalahkan’ perempuan.
Disini, aku pun berharap dapat ‘menyadarkan’ perempuan, terutama ‘ibu’ untuk menjaga integritasnya, harga diri, atau apapun namanya. Karena, masa depan anak anak penerus kehidupan dan penghambaan tergantung penuh pada mereka. Jangan sampai anak anak yang tidak terlibat dalam tindakan bodoh ibunya menjadi korban penolakan masyarakat, hanya karena si ibu tidak dapat menjaga harga dirinya dengan baik. Bagiku, wanita yang menjajakan dirinya untuk hidup, tidak dapat disebut pelacur. Kondisilah yang memaksakan mereka. Dengan tidak adanya kesempatan dan kemampuan untuk pendidikan yang baik, tekanan kondisi ekonomi, mereka mau tidak mau ‘ berjualan ‘. Pelacur bagiku adalah perempuan yang dianugerahi ‘ kecukupan ‘, baik suami, kondisi ekonomi, pendidikan, anak anak yang manis, keluarga yang utuh, tapi dengan gampangnya ‘tidur’ dengan laki-laki lain. Bahkan ada perempuan, berjilbab, rajin mengikuti pengajian – pengajian, dengan gratis memberikan harga dirinya, yang seharusnya hanya ia berikan kepada suaminya, tapi malah ia ‘ bagi ‘ dengan ‘ Ustadz ‘nya di tempat tidur hotel, di bulan Ramadhan. Bisa dibayangkan bagaimana nasib pendidikan moral anak anaknya ditangan seorang ibu seperti itu.
Wanita, pria, hanyalah masalah jenis kelamin. Seprti yang ditulis didalam blog sahabat saya, bahwa hubungan atau keterikatan yang terjadi antara pria – wanita hanyalah sebatas kontrak sosial. Yang menjadi pertanyaan, apakah kedua belah pihak mempunyai hak yang sama untuk mengakhiri bentuk kontrak tersebut? Yang terjadi pada kisah seorang perempuan diatas, menunjukkan bahwa seolah olah kontrak tersebut dikuasai oleh pihak pria. Apakah pria sebegitu pentingnya? Sampai2 hak untuk menjatuhkan talak berada penuh pada tangan pria. Padahal yang sudah jelas2 dirugikan adalah si perempuan tersebut.